Kimia Farma berkomitmen dalam kerjasama untuk pelaksanaan Program Pengembangan Teknologi Industri dan Insentif Sistem Inovasi Nasional

 

 

 

Dalam rangka memberi dukungan program hilirisasi hasil riset dan pengembangan Bidang Kesehatan dan Obat, Kemenristek dan Batak mengadakan acara launching produk-produk radiofarmaka dan radioisotop - BATAN. Kimia Farma sebagai mitra dalam pengembangan radio isotop dan radiofarmaka BATAN untuk Program Pengembangan Teknologi Industri dan Insentif Sistem Inovasi Nasional

 

Diadakan di Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka – BATAN Kawasan Puspitek Serpong – Tangerang Selatan

 

Dihadiri oleh pejabat lingkungan pemerintahan seperti  Suryantoro (Plh. Kepala Batan),  Prof. dr. Ir. M Nasir (Menteri RistekDikti),  Honesti Basyir ( Dirut Kimia Farma), Falqoni (Sekretaris Utama Batan) dan Nurma Hudayati (Deputi Badan Pom)

 

Dalam proses kerjasamanya antara Kimia Farma dan Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) BATAN dimulai sejak tahun 2008, dan melalui beberapa tahapan, mulai dari proses perencanaan hilirisasi produk hasil riset PTRR Batan, persiapan pengajuan sertifikasi yang juga didukung oleh regulator yaitu Kementerian Kesehatan RI dan Badan POM RI hingga akhirnya mendapatkan persetujuan registrasi Nomor Izin Edar.

 

Mulai tahun 2014 hingga saat ini juga sedang dilakukan konsorsium antara Kimia Farma dan PTRR Batan dalam pengembangan untuk produk radiofarmaka baru. Saat ini juga PTRR Batan sudah memiliki Sertifikat Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB) dengan asistensi yang Kami lakukan dibawah bimbingan Badan POM, Kementerian Kesehatan dan Bapeten.

 

Sejak tahun 2013, Kimia Farma telah menjual sebanyak 470 unit Renalscan Kaef (KIT DTPA), 1493 unit Bonescan Kaef (Kit MDP), dan 524 unitCardioscan Kaef (Kit Mibi). Peningkatan jumlah produk Radiofarmaka tiap tahunnya menunjukan adanya kebutuhan di pasar. Kit Radiofarmaka yang kita miliki merupakan satu-satunya sediaan yang telah teregistrasi memiliki Nomor Izin Edar (NIE) dan masuk dalam e-catalogue 2017.

 

 

Dari total Rumah Sakit yang memiliki Gamma Camera, yaitu 12 alat, namun saat ini hanya 7 alat yang kondisinya dapat dipergunakan yang merupakan salah satu sebagai hambatan dalam pemasaran. Fasilitas pendukung kedokteran nuklir di Rumah Sakit sangat terbatas dan minimnya pengetahuan petugas kesehatan terhadap teknologi dan manfaat kedokteran nuklir juga perlu ditingkatkan.

 

Kimia Farma sangat membuka peluang dan mendorong untuk kolaborasi baik dalam tingkat pasial atau dalam value chain secara keseluruhan. Kolaborasi ini tidak dapat terealisasi dengan instan karena kita membutuhkan penyamaan visi bersama, koordinasi dan kesepahaman untuk pemenuhan regulasi, adanya Sinergi Yang Kuat sehingga membuahkan hasil kerja yang nyata.

 

Maka dari itu, Kimia Farma berkomitmen dalam kerjasama untuk pelaksanaan Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) dan Insentif Sistem Inovasi Nasional (INSINAS). Dengan kemandirian dan ketahanan industri farmasi nasional yang kuat dan termanfaatkannya potensi-potensi penelitian anak bangsa sehingga Kita bersama-sama dapat meningkatkan kualitas hidup bangsa.