Jajaran direksi Perseroan melakukan kunjungan kerja ke Plant Banjaran pada tanggal 12 Mei 2017 sebagai salah satu langkah untuk lebih mendalami Kimia Farma. Dengan didampingi oleh ibu Puti Krishnamurti, rombongan meninjau ke seluruh area utama dari Pabrik Banjaran tersebut. Antusiasme terlihat dari berbagai pertanyaan yang diajukan oleh Direksi.

Belum lama ini, Perseroan juga telah melakukan topping off atas pekerjaan pembangunan gedung Pharma I – Plant Banjaran. Topping off adalah suatu kegiatan pemasangan atau penutupan atap bangunan sebagai tanda berakhirnya proses konstruksi. Untuk pabrik Banjaran tersebut, setidaknya sudah memasuki 80% tahap pembangunan sipil dan diharapkan akan segera beroperasi pada 2018

Pabrik seluas 5 ha ini juga ditujukan untuk menambah kapasitas produksi obat dan akan menjadi pabrik farmasi dengan menggunakan high technology yang menggunakan mesin mutakhir.

Selanjutnya, masih di hari yang sama, Direksi meneruskan kunjungan kerja ke Kimia Farma Plant Bandung dan kawasan Riset dan Pengembangan (R&D). Pabrik yang awalnya adalah pabrik kina tersebut berada di Jalan Pajajaran dan berdiri pada 29 Juni 1896 dengan nama Bandoengsche Kinine Fabriek N.V. Kawasan industri ini merupakan kawasan industri tertua di Bandung.

Pabrik ini didirikan karena dulu banyak penduduk Eropa yang tinggal di Batavia meninggal akibat malaria, bahkan Batavia sempat dijuluki Het graf van het oosten atau kuburannya negeri timur. Melihat itu pada tahun 1851 Menteri Jajahan Seberang Lautan Belanda, Ch F Pahud mengusulkan pada PW Junghuhn untuk melakukan pembudidayaan kina di Jawa. Di tahun yang sama Prof de Vriese mendapatkan biji Kina paling baik dari Prancis dan mulai coba ditanam di Kebun Raya Bogor. Bibit pohon ini kemudian berkembang menjadi berpuluh batang kina untuk dibiakka

Untuk mengolah kina menjadi garam kina pemerintah Hindia Belanda mendirikan pabrik kina di Bandung dengan diarsiteki oleh Gnelig Mijling AW seorang arsitektur art deco. Pada tahun 1942, pabrik ini dikuasai oleh Jepang dan diberi nama Rikugunkinine Seizoshyo yang sebagian besar hasilnya diangkut ke Jepang. Pada tahun 1945, Belanda kembali mengambil alih pabrik kina dari Jepang. Pabrik kina kembali berubah nama menjadi Bandoengsche Kinine Fabriek N.V.

Pada tahun 1958 terjadi nasionalisasi terhadap semua perusahaan warisan Belanda. Pengelolaan Pabrik Kina berada di bawah kendali Badan Nasionalisasi Perusahaan-perusahaan Belanda (Banas). Tahun 1961 Pabrik Kina ini diberi nama Perusahaan Negara (PN) Farmasi dan Alat Kesehatan Bhineka Kina Farma dan pada tahun 1971 dengan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1971 Pabrik Kina ini berubah menjadi PT (Persero) Kimia Farma hingga sekarang. (*Sumber : Pikiran Rakyat, http://www.infobdg.com/v2/sejarah-pabrik-kina-bandung/)