PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan mempertimbangkan penerbitan surat utang dalam jangka menengah (medium term notes/MTN) maupun obligasi. Emisi ini akan dimanfaatkan untuk menambal pendanaan eksternal senilai Rp 1,6 triliun tahun ini.

Direktur Utama Kimia Farma Rusdi Rosman mengatakan, dana eksternal ini bakal digunakan perseroan untuk membiayai ekspansi dalam waktu dekat. Oleh sebab itu, Perseroan akan berupaya untuk mendapatkan dana eksternal tersebut secepatnya.

Sebelumnya, Kimia Farma berharap memperoleh dana dari pelaksanaan penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Namun pendanaan melalui penerbitan saham baru ternyata membutuhkan waktu lebih lama.

“Jadi kami mencari alternative pembiayaan lain seperti MTN, obligasi, atau perbankan,” tuturnya di Jakarta, pekan lalu

Terkait penerbitan obligasi, dia mengatakan, direalisasikan jika biaya pendanaan (cost of fund) lebih murah dibandingkan pendanaan eksternal lainnya. Saat ini peringkat (rating) perseroan berada pada level AA

Tahun ini, perseroan tengah membangun sebanyak empat pabrik baru. Total kebutuhan dana investasi perseroan sekitar Rp 2 triliun, 30% diantaranya dipenuhi dari kas internal

Menurut Rusdi, Kimia Farma akan mulai menggalang dana pada kuartal II – 2017. Kemungkinan perseroan menggunakan pinjaman perbankan sebelum nantinya dikombinasikan dengan penerbitan surat utang

Pembangunan pabrik bahan baku obat pertama di Indonesia bakal selesai sekitar Agustus tahun ini. Perseroan harus segera membayar mesin yang diimpor dari Korea Selatan. Sementara itu, Kimia Farma tengah memfinalisasi akuisisi perusahaan apotek asal Arab Saudi. Dia mengungkapkan bahwa nilai akuisisi perusahaan itu berkisar antara Rp 110 – 160 miliar

Perusahaan tersebut memiliki 30 gerai apotek di Arab Saudi. Nantinya Kimia Farma akan melengkapi apotek tersebut dengan klinik

Dia memandang bahwa Arab Saudi cocok untuk pengembangan perseroan, karena produknya bisa dijual ke Timur Tengah. Sebagai negara mayoritas pemeluk agama Islam, produk asal Indonesia dipercaya oleh pasar Timur Tengah karena terjamin halal

Apotek perseroan juga dapat dimanfaatkan untuk Jemaah haji dan umroh maupun tenaga kerja Indonesia. “Kita juga ingin menjadi global company,” ujar Rusdi

Setelah akuisisi rampung, maka pendapatan Kimia Farma akan terdongkrak karena perusahaan itu sudah beroperasi dan menghasilkan

Belum lama ini Kimia Farma menambah modal anak usahanya, PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia sebesar Rp 78,7 miliar. Kimia Farma memegang sebesar 75% saham Kimia Sungwun

Penambahan modal tersebut untuk menunjang ekspansi Kimia Sungwun membangun pabrik bahan baku obat di Cikarang. Kimia Sungwun merupakan perusahaan patungan (joint venture) antar Kimia Farma dengan perusahaan farmasi asal Korea Selatan PT Sungwun Pharmacopia Indonesia

Pabrik Kimia Sungwun akan memproduksi delapan jenis bahan baku obat yakni simvastatis, atorvastatis, rosuvastatin, pantroprazole, esomeprazole, raberprazole, clopidogrel dan sarpogrelate